Suasana yang aman dan tentram adalah suasana yang diidam-idamkan oleh setiap orang.  Rasa aman dan tentram adalah rasa dimana kita merasa dapat melakukan segala hal tanpa ada gangguan sama sekali atau rasa dimana kita akan merasa tenang jika apa yang kita miliki tidak diusik oleh orang yang tidak kita kehendaki atau perasaan yang nyaman dimana kita tidak mempunyai prasangka yang buruk kepada seseorang. Perasaan aman atau tidak aman mungkin baru kita rasakan ketika aktivitas kita terganggu oleh sesuatu yang ekstrim. Misalnya: seorang mahasiswa sedang giat belajar tiba-tiba motornya ada yang mencuri atau seorang dosen yang sedang sibuk mengajar tiba-tiba mobilnya di bobol maling atau seorang karyawan yang sebagian hidupnya dihabiskan di tempat kerja namun kendaraannya yang diparkir ada yang mengganggu. Rasa aman adalah keinginan dan tanggung jawab bersama. Karena sangat pentingnya rasa aman dalam diri kita, kita menempatkan kebutuhan terhadap rasa aman lebih diutamakan daripada kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena orang yang cemas dan khawatir serta penuh ketakutan tidak akan bisa merasakan enaknya makanan dan minuman sebagaimana mestinya. Kita mengharapkan semua tempat yang kita injak dan kita diami terasa aman, di rumah maupun di tempat kerja ataupun dimana saja kita mengharapkan rasa aman. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pernah berdo’a agar kota Makkah tempat istri dan anaknya tinggal (atau masyarakat) menjadi kota yang aman dan dimudahkan rizki untuk bekal kehidupannya. Do’a Nabi Ibrahim dalam al-Qur’an : “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa dan berikanlah rizki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” [QS.Al-Baqarah (2): 126].

Di dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim ‘alaihissalam lebih mendahulukan untuk meminta kehidupan yang aman setelah itu disusul dengan meminta rizki, maka jelaslah bahwa kebutuhan terhadap kehidupan yang aman di muka bumi ini merupakan kebutuhan yang sangat diutamakan. Rasa aman di tempat kerja dan atau ditempat mencari ilmu akan memberikan keberkahan dan kemudahan terhadap rizki dan ilmu.  Oleh karena itu pula kita berusaha agar di muka bumi pada umumnya menjadi aman dan nyaman. Allah Ta’ala dan Rasul Allah Muhammad SAWW menjamin rasa aman bagi setiap manusia tanpa membedakan apakah dia seorang muslim atau non muslim. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran [QS.At-Taubah (9):29] “…..mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” Dan kata Rasul Allah Muhammad SAWW  “Orang beriman itu ialah orang yang membuat rasa aman terhadap sesamanya dari harta dan jiwanya.” [HR. Ibnu Majah dan Ahmad dari Fadhalah ibn Ubaid]. 

Abdullah ibn ‘Amr ra., berkata, aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Seorang muslim itu dengan orang yang muslim yang lainnya merasa selamat dari gangguan lidah dan tangannya, orang yang berhijrah adalah orang yang menahan diri dari apa yang dilarang Allah kepadanya.” [HR. Ahmad]. Bahkan Rasul Allah Muhammad SAWW dalam hadist lain mengatakan: “Bintang-bintang adalah pemberi rasa aman bagi langit. Maka, apabila bintang-bintang itu telah pergi, niscaya langit akan mengalami apa yang telah dijanjikan kepadanya. Aku adalah pemberi rasa aman bagi para Sahabatku. Maka, apabila aku telah pergi, niscaya akan datang kepada para Sahabatku apa yang telah dijanjikan kepada mereka. Dan semua Sahabatku adalah pemberi rasa aman bagi ummatku. Maka, apabila semua Sahabatku telah pergi, niscaya akan datang kepada ummatku apa yang telah dijajikan kepada mereka.” [HR. Muslim]. Dan begitu juga hadist :
Barangsiapa membunuh seorang kafir dzimmi, maka dia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun. ” [HR. An Nasa’i. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]. Kafir dzimmi adalah seorang non muslim yang tunduk dan patuh kepada aturan yang ditetapkan oleh Rasulullah SAWW dan sebagai konsekuensinya beliau membayar  jizyah yang  berarti semacam pajak yang dipungut dari rakyat non Muslim merdeka dalam negara Islam, yang dengan pajak itu mereka mengesahkan perjanjian yang menjamin mereka mendapat perlindungan.

Apa sesungguh upaya yang harus dilakukan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang aman dan tentram, khususnya di lingkungan kerja kita dan tempat kita menimba ilmu. Apakah masalah keamanan diatur dan diputuskan dengan cara sepihak dilakukan oleh pihak berwenang yaitu dengan cara menetapkan keputusan yang tidak populer kepada masyarakat dan mengabaikan segala upaya yang ingin menghalanginya? Ataukah dengan cara menjadikan keinginan mayoritas orang sebagai tolok ukur kebenaran dan memberikan keleluasaan kepada tiap orang untuk berbuat sesuai selera masing-masing? Keputusan sepihak menjadikan kita terbelenggu dan berontak sedang membiarkan orang sepuasnya menjadikan lingkungan kita tidak teratur dan keamanan tidak terjamin. Kalau kita akan terapkan dan dipaksakan semacam Jizyah kita orang muslim dan kebanyakan diantara kita muslim ataukah menerapkan sumbangan sukarela yang kemungkinan tidak akan ada ujung pangkalnya ataukah lembaga/institusi membebaskan semua itu sebagai pelayanan publik dan menjamin semuanya. Kalau semua langkah tidak bisa menyelesaikan masalah, maka mari kita duduk bersama untuk musyawarah dan mufakat untuk mencari solusi yang terbaik tidak merugikan dan atau menguntungkan sebelah pihak. Allah Ta’ala berfirman dalam al-Quran dan begitu juga telah banyak dicontohkan oleh Rasul Allah Muhammad SAWW : “…dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” [QS. Ali Imran (3):159].
Dalam ayat lain, Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka”  [QS. asy-Syura (42):38].

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah. Bersyukur bermakna mengucapkan terima kasih terhadap apa yang telah dikaruniakan Allah Ta’la kepada kita. Implikasi syukur kepada Allah Ta’ala adalah kita senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kita kepada Allah Ta’ala dan secara simultan kita ucapkan terima kasih kepada sesama manusia. Alhamdulillah, sampai hari ini kita masih bekerja dan menikmati gaji, tunjangan dan honor yang kita terima. Namun adakah kita selalu mengevaluasi diri kita setiap waktu dan hari akan semua nikmat yang kita terima dan sudahkah semua nikmat tersebut sesuai dengan apa yang telah kita kerjakan?. Jangan-jangan kita hanya berdiam diri tidak bekerja, banyak ngobrol dan bermain dibanding dengan bekerja, masalah terus  bertumpuk dan lambat karena kita tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, bahkan kadangkala apa yang kita kerjakan dapat menimbulkan ketidak nyamanan, ketersinggungan kepada orang lain. Ingat tidak semua dosa kita cukup diampuni Allah Ta’ala dengan uraian air mata sambil istigfar, namun ada dosa-dosa yang terampuni dengan bekerja keras dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Dan karena kerja keras dengan bersungguh-sungguh tersebut kita bisa meringankan beban dan urusan orang yang memerlukannya.

Rasullullah SAWW bersabda: “Barangsiapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di sore itulah ia diampuni dosa-dosanya,” (HR Ibnu ‘Abbas). “Siapa saja yang membebaskan kesusahan dan kesulitan hidup seseorang yang beriman, Tuhan akan membebaskannya pada hari Kiamat. Siapa saja yang meringankan beban hidup orang lain, Allah akan meringankan segala urusannya di dunia dan akhirat. Tuhan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. (HR. Muslim). Ketika pulang dari perang, di tengah perjalanan, Rasulullah ditemui seseorang yang bernama Sa’ad al-Ansari. Sa’ad mengeluh dan memperlihatkan telapak tangannya yang pecah-pecah. Ketika Rasul bertanya : “Mengapa?”, Sa’ad menjawab: “Saya ini bekerja mencari nafkah yang halal untuk keluarga dengan cara membelah batu, kemudian batu itu saya jual. Setiap hari saya bekerja seperti itu.” Kemudian Rasul mengambil tangan Sa’ad yang kasar dan pecah-pecah itu, lalu menciumnya, sambil berkata: “Tangan seperti inilah yang kelak akan dicintai Allah.”

Kebanyakan diantara kita bekerja tidak selalu tangan kita sampai kasar dan melepuh, tangan kita tetap halus, kadang kita bekerja dengan menggunakan fikiran sampai lelah dan jenuh, kita bekerja dengan ucapan hingga suara kita terbata-bata. Semua itu adalah wujud kita dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan kita untuk menuju ridha illahi dan usaha kita dalam menghalalkan apa yang kita dapat dari gaji, tunjangan dan honor yang kita terima. Semoga kita termasuk hamba yang dimaksudkan dalam sabda Rasullulah SAWW:Seutama-utamanya amal adalah memberikan rasa bahagia pada hati orang beriman, melepaskan lapar, membebaskan kesulitan atau membayarkan hutang (HR. Thabrani).

Wallah a’lam bis-Shawwab

Menteri Kominfo, Tifatul Sembiring ketika membuka Rapat Koordinasi Nasional Kementerian Kominfo di Jakarta (25 Oktober 2010) meminta agar broadband economy dalam meraih keuntungan dari bisnis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tidak mengorbankan moral dan akhlak bangsa, karena kultur bangsa Indonesia berbasiskan agama, jangan sampai kultur baik itu sekejap hancur gara-gara dirusak teknologi. Sebab, menjaga moralitas bangsa adalah tanggung jawab bersama, tidak saja pemerintah. Di Indonesia sendiri, TIK belum digunakan secara produktif. Internet masih digunakan sebatas e-mail, chating, sosial media, dan game online. Alat tersebut belum banyak digunakan untuk riset, bisnis, pemasaran, dan berbagai hal produktif lainnya.

Data yang disajikan oleh alexa.com pada tanggal 28 Oktober 2010 menyajikan bahwa domain yang paling banyak diakses di Indonesia adalah Facebook, google.co.id, google, blogger, yahoo, kaskus, youTUBE, wordPress, Detik, 4Shared, Twitter, dan ke-66 adalah domain Tube8 yang berhubungan dengan sex sedangkan yang berhubungan dengan domain pendidikan tidak termasuk domain 100 besar. Di lihat dari keseluruhan berdasarkan katagori adalah domain yang berhubungan adult, art, business, komputer, game, healt, home, kids and teen, news, rereation, dan urutan ke-13 adalah science. Satu contoh perbandingan antara negara Indonesia, Malaysia dan Filipina. Pencarian dengan menggunakan kata ‘sex’, negara Indonesia menduduki peringkat ke-5 setelah Vietnam, India, Mesir dan Maroko. Sedangkan pencarian dengan menggunakan kata ‘science’, Indonesia tidak termasuk negara 10 besar. Malaysia konsisten pencarian menggunakan kata sex dan science sama-sama urutan ke-7. Sedangkan Filipina pencarian menggunakan kata science menduduki urutan ke-1 dan pencarian menggunakan kata sex tidak termasuk negara 10 besar. Kondisi Filipina amat berbeda dengan Indonesia, bahkan Jakarta ibu kota Indonesia termasuk kota dengan urutan ke-4 dalam pencarian kata ‘sex’ di internet setelah Kota Hanoi, delhi dan mumbai. Contah lain pencarian dengan menggunakan bahasa Indonesia menurut data google.com/trends kata ‘porn’  penggunaannya dengan urutan ke-3 setelah bahasa Greek, English, Indonesian, Italian dan Turkish

Berbagai dampak telah diberikan oleh TIK dalam berbagai kehidupan umat manusia; perdagangan, perbankan, pendidikan, politik, komunikasi dan pemerintahan. Pada dasarnya dampak-dampak tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut : (1) perubahan ekonomi yang berorientasikan buruh menjadi berorientasi modal, (2) perubahan dari semangat kedaerahan menjadi semangat nasional dan dunia, (3) perubahan dari pekerja buruh kepada pekerja informasi, (4) perubahan dari monopoli kepada persaingan, (5) perubahan dari kenja individual kepada pekerjaan bersama secara serentak, (6) perubahan dari perencanaan jangka panjang menjadi perencanaan jangka pendek, (8) perubahan dari kehadiran fisikal yang wajib menjadi tidak wajib, (9) perubahan daripada pekerjaan yang tetap kepada yang tidak tetap (outsourching), dan (10) perubahan dari ukuran yang besar kepada ukuran kecil.

Terwujudnya pelayanan prima kepada masyarakat dalam arti pelayanan yang cepat, tepat, adil dan akuntabel, merupakan harapan bagi setiap institusi/lembaga/organisasi pelayanan publik. Oleh itu, perlu melakukan penyempurnaan sistem pelayanan publik yang menyangkut perbaikan metoda dan prosedur pelayanan publik. Penerapan dan pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat membantu memfasilitasi terhadap harapan tersebut di atas. Pelayanan publik yang prima ke depan bukan sekedar mengikuti trend global melainkan merupakan suatu langkah strategis di dalam upaya meningkatkan akses dan mutu layanan kepada masyarakat. Secara internal kelembagaan penerapan dan pengembangan TIK menjadi tulang punggung sistem tata kelola pemerintahan menuju good governance yang transparan dan akuntabel. Efisiensi akan banyak dicapai melalui pemanfaatan TIK tanpa harus merusak nilai-nilai kemanusiaan. Justru sistem TIK yang dikembangkan harus mampu mengangkat harkat dan nilai-nilai kemanusiaan dengan terciptanya layanan publik yang lebih bermutu dan efisien, sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia di dalam zaman global dan kompetitif ini.

TIK yang dikembangkankan harus menuju terwujudnya sistem terpadu yang dapat membangun konektivitas antar komponen yang ada sehingga menjadi lebih dinamis dan lincah bergerak dalam mengadakan komunikasi guna memperoleh dan meraih peluang-peluang yang ada untuk pengembangan karakter di Indonesia. Sudah barang tentu semua ini harus diikuti oleh kesiapan seluruh komponen sumber daya manusia baik dalam cara berpikir, orientasi perilaku, sikap dan sistem nilai yang mendukung pemanfaatan TIK untuk kemaslahatan manusia. Sistem informasi manajemen (keuangan, SDM, aset dan fasilitas, e-government, e-learning, e-turism) merupakan program-program yang harus dibangun secara sinergi dalam menghadapi tuntutan zaman.

Di era globalisasi peranan TIK menjadi semakin penting digunakan untuk mengungkapkan data dan fakta menjadi sebuah informasi yang bisa dimanfaatkan.  Kontribusi TIK tidak terlepas dari suatu tanggung jawab agar data dan fakta dapat dikumpulkan, dikelola, disimpan, diteliti, dibuktikan dan disebarkan agar masyarakat mendapatkan informasi penting dengan benar secara efektif dan efisien.  TIK pada hakikatnya adalah alat untuk mendapatkan nilai tambah dalam menghasilkan suatu informasi yang cepat, lengkap, akurat, transfaran dan mutakhir.  Salah satu manfaat yang dapat dirasakan dalam kontribusi TIK adalah teknologi internet.  Internet sebagai media informasi telah memberikan peluang bagi setiap orang untuk menyampaikan data dan fakta secara terbuka dan bertanggung jawab. Hal ini membuka peluang baru dalam perkembangan karakter dimana data, fakta dan informasi dapat milik semua orang secara terbuka dan jujur, dengan demikian flagiatisme akan berkurang.

Membangun karakter yang jujur, bertanggung jawab, transfaran dan akuntabel harus mampu meningkatkan information literacy yang baik dengan didukung oleh data dan fakta yang dibutuhkan untuk menghantarkan suatu bangsa pada keutuhan kehidupan berbangsa dan bertanah air satu.  Alvin Toffler dalam Powershift (buku ketiga dalam trilogi, selepas Future Shock dan The Third Wave) menggambarkan perkembangan itu sebagai revolusi yang berlangsung dalam tiga gelombang yaitu gelombang pertama munculnya teknologi pertanian, gelombang kedua munculnya teknologi industri, dan gelombang ketiga munculnya teknologi informasi yang mendorong tumbuhnya telekomunikasi. Teknologi telah mempengaruhi manusia dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga jika ‘gagap teknologi akan terlambat menguasai informasi, dan akan tertinggal pula untuk memperoleh kesempatan untuk maju. Informasi memiliki peran penting dan nyata, karena masyarakat sekarang sedang menuju pada era masyarakat informasi (information society) atau masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society).

Strategi pembangunan karakter dalam pelayanan publik tidak hanya menghadapi perubahan substansi data dan fakta, lebih jauh ditantang untuk menemukan bentuk pendekatan, strategi dan metode pelayan yang mampu menjawab tantangan kebutuhan bangsa pada era globalisasi dan keterbukaan informasi. Penelitian dan pengembangan  pelayanan publik dalam menemukan pendekatan, strategi dan metode pelayanan yang mengakar pada kontek bangsa perlu dilakukan secara sadar dan berkelanjutan. 

Pelayan publik yang prima merupakan sumber kemajuan bangsa yang sangat menentukan daya saing bangsa, dengan demikian, sektor pelayanan harus terus-menerus ditingkatkan mutunya. Fakta saat ini menunjukkan bahwa faktor kesenjangan pelayanan publik menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan mutu layanan. Kesenjangan mutu layanan tersebut selain disebabkan karena faktor sarana dan prasarana yang belum memadai, sumberdaya manusia yang masih terbatas dan juga manajemen sistem layanan publik yang belum terpadu.

Dalam kaitannya dengan faktor tersebut di atas, penggunaan dan pemanfaatan TIK sebagai daya penggerak layanan publik masih dirasakan amat rendah. Walaupun sebagian institusi/lembaga di Indonesia sudah memanfaatkan TIK, terutama dalam manajemen layanan, tetapi masih dalam lingkup yang terbatas. Ketertinggalannya dalam pendayagunaan TIK merupakan isu penting dalam kebijakan pembangunan Indonesia.

Pemanfaatan TIK merupakan salah satu solusi tepat bagi pemecahan masalah layanan publik di Indonesia. Setidaknya pemanfaatan TIK dalam layanan publik di Indonesia, akan mengatasi masalah sebagai berikut:

  • Masalah geografis, waktu dan sosial ekonomis Indonesia. Negara Republik Indonesia merupakan Negara kepulauan, daerah tropis dan pegunungan hal ini akan mempengaruhi terhadap pengembangan infrastruktur layanan publik sehingga dapat menyebabkan distribusi informasi yang tidak merata.
  • Mengurangi ketertinggalan dalam pemanfaatan TIK dalam layanan publik dibandingkan dengan negara berkembang dan negara maju lainnya.
  • Akselerasi pemerataan kesempatan layanan dan peningkatan mutu layanan yang sulit diatasi dengan cara-cara konvensional.
  • Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan dan pendayagunaan TIK.
  • TIK akan membantu kinerja layanan publik secara terpadu sehingga akan terwujud manajemen yang efektif dan efisien, transparan dan akuntabel.

Secara geografis dan sosial ekonomis Indonesia, penerapan dan pengembangan TIK akan menjadi tulang punggung sistem layanan publik masa yang akan datang. TIK dimanfaatkan dan dikembangkan harus mampu mengangkat harkat dan nilai-nilai kemanusiaan dengan terciptanya layanan publik yang lebih bermutu dan efisien, sehingga dapat memenuhi kebutuhan manusia di era global dan kompetitif ini. Penerapan dan pengembangan aplikasi TIK yang tepat dalam layanan publik merupakan salah satu faktor kunci penting untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Penyempurnaan terus dilakukan sebagai respon terhadap tuntutan perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, tuntutan desentralisasi, dan hak asasi manusia. Berbagai keadaan menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu mendayagunakan potensi TIK secara baik, dan oleh karena itu Indonesia terancam digital divide (kesenjangan digital) yang semakin tertinggal terhadap negara-negara maju. Kesenjangan prasarana dan sarana telekomunikasi dan informasi antara kota, pedesaan, pegunungan dan pantai,  kabupaten dan   provinsi bahkan antar pulau juga memperlebar jurang perbedaan sehingga terjadi pula kesenjangan digital di dalam negera kita sendiri.

Meningkatnya kecenderungan manusia terhadap tenologi informasi dan komunikasi (TIK) di era informasi ini sesungguhnya memiliki kaitan secara langsung dengan peningkatan tahap literasi komputer, literasi informasi, dan juga tingkat kesejahteraan masyarakat. Semua faktor tersebut satu sama lainnya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan. Selain itu, minat membaca masyarakat juga semakin meningkat sehingga berdampak pada pemenuhan berbagai sumber yang mudah dan cepat diakses. Harapan utama dari pemanfaatan TIK adalah terbentuknya karakter bangsa yang dapat meningkatkan kemandirian dan prodikvitas kerja di kalangan masyarakat Indonesia saat ini yang diiringi peningkatan taraf pendidikan dan pendapatan masyarakat di masa depan sehingga mampu bersaing dan sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. M. Hatta Rajasa (2010) mengatakan bahwa pembangunan fisik suatu bangsa sebagai salah satu instrumen dalam pembinaan karakter manusia umumnya diartikulasikan dalam bentuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun aspek lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengaruh dari kemajuan kapasitas berpikir manusia, terutama teknologi informasi dan telekomunikasi. Kedua  jenis teknologi ini secara sangat radikal telah mengakselerasi proses interaksi antar manusia dari berbagai bangsa dan memberikan dampak globalisasi yang salah satu cirinya adalah munculnya persaingan atau competitiveness.

Di era globalisasi, disadari ataupun tidak tantangan Indonesia ke depan akan lebih berat. Dadan Wildan (2010) mengemukakan bahwa indikator utama globalisasi meliputi: (i) open competition,  (ii) interdependency, dan (iii) competitiveness. Open competition adalah kondisi persaingan terbuka yang semakin meluas dan menyangkut berbagai dimensi kehidupan. Karena kompetisi itu semakin terbuka dan meluas, dengan sendirinya tingkat kompleksitas dari kompetisi itu akan semakin meningkat sehingga mendorong terjadinya ciri kedua yaitu desakan untuk semakin meningkatnya aspek saling ketergantungan atau interdependency antara satu pihak dengan pihak lain. Dan untuk menghadapi kompetisi yang semakin meluas, namun juga bersifat saling ketergantungan itu, maka setiap pihak dituntut untuk memiliki daya saing atau competitiveness yang tinggi.  Namun disisi lain globalisasi melahirkan suatu kondisi ideologi yang demokratis, perlindungan hak asasi manusia yang semakin baik, kebebasan pers yang terbuka, tata pemerintahan yang baik atau good governance, serta proses ke arah pembangunan masyarakat madani atau civil society

Oleh karena itu, optimalisasi pemanfaatan TIK menjadi salah satu alternatif solusi dalam menopang dan menggerakkan negara di kancah persaingan global dan pembangunan karakter bangsa.  Permasalahan utamanya adalah karakter bangsa Indonesia yang mana yang akan dijadikan acuan, Sutopo Wahyu Utomo (2010) mengatakan bahwa karakter Bangsa Indonesia telah dirumuskan dalam sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang menyatakan mengaku berbangsa yang satu Bangsa Indonesia, berbahasa satu Bahasa Indonesia, dan bertanah air satu Tanah Air Indonesia. Dengan demikian, pada tahun 1928 secara fisik karakter bangsa Indonesia sudah terbentuk. Namun, secara psikologis, sosial budaya, ekonomi, nilai-nilai karakter bangsa belum mengkristal, terlebih ketika dikaitkan dengan semangat untuk tetap menjaga kebhinekaan. Sejarah mencatat bahwa Pancasila merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur budaya bangsa. Jika hal ini dipegang, maka karakter bangsa Indonesia adalah Pancasilais.

Kehadiran TIK dalam pembangunan karakter bangsa bisa dimaknai dalam tiga paradigma, yaitu (1) TIK sebagai alat atau berupa produk teknologi yang bisa digunakan dalam pembangunan karakter, (2) TIK sebagai konten atau sebagai bagian dari materi yang bisa dijadikan isi dalam pembangunan karakter, dan (3) TIK sebagai program aplikasi atau alat bantu untuk manajemen yang efektif dan efisien dalam pembangunan karakter. Ketiga paradigma tersebut disinergikan dalam sebuah kerangka sumberdaya TIK yang secara khusus diposisikan dan diarahkan untuk mencapai visi dan misi negara dalam membangun karakter bangsanya. Adalah anggapan keliru apabila TIK dipandang sebagai esensi fisik semata. Karena itu, perlu adanya suatu orientasi dalam bentuk internalisasi TIK dalam pembangunan karakter atau tata nilai sosio-budaya masyarakat Indonesia yang mandiri dan berdaya saing.

Dalam perspektif ilmu saintifik yang disebut dengan TIK adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa, dan teknik pengelolaan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya, komputer dan hubungan mesin (komputer) dan manusia, dan hal yang berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development: Report on Information Technology; H.M. Stationery Office, 1980). Definisi lain tentang TIK yaitu semua bentuk teknologi yang terlibat dalam pengumpulan, memanipulasi, komunikasi, presentasi dan menggunakan data (data yang ditransformasi menjadi  informasi) [E.W. Martin et al. 1994. Managing Information Technology: What Managers Need to Know. New York :Prentice Hall]

Dalam konteks yang lebih luas, TIK merangkum semua aspek yang berhubungan dengan mesin (komputer dan telekomunikasi)  dan teknik yang digunakan untuk menangkap (mengumpulkan), menyimpan, memanipulasi, mengantarkan dan mempresentasikan suatu bentuk informasi. Komputer yang mengendalikan semua bentuk idea dan informasi memainkan peranan yang penting dalam mengumpulkan, memproses, menyimpan dan menyebarluaskan informasi digital melalui saluran mikroelektronik. TIK mengabungkan bidang teknologi seperti komputerisasi, telekomunikasi, elektronik dan bidang informasi seperti data, fakta, dan proses.

Posisi Indonesia dalam pemanfaatan TIK (internet) menurut data persaingan global berbasis TIK yang bersumber dari internetworldstats.com berada di posisi ke-5, setelah China (384jt),  Jepang (96jt), India (81jt), Korea Selatan (37,5jt) dan Indonesia (30jt).  Adapun penetrasi penggunanya adalah sebesar 12.3%, sedangkan Per Capita GDP sebesar US $2,858,000. Pengguna Facebook per tanggal 31 Agustus 2010 sebanyak 27,338,560 dengan penetrasi 11.3%, posisi ini menempati peringkat ke-2 dunia setelah Amerika Serikat.  Sumber data Alexa.com pada tanggal 28 November 2010 menggambarkan trafik penggunaan facebook Indonesia (2.7%) peringkat ke-6 setelah Amerika Serikat (26.1%), India (6.5%), Jerman (4.3%), Prancis (4.0%), Inggris (3.9%), Itali (3.8%) dan Maxico (2.9%). Sumber dari http://www.internetworldstats.com/asia/id.htm menunjukkan pertumbuhan Indonesia dari tahun 2000 – 2010, sebagai berikut: 

YEAR Users Population % Pen. GDP p.c.* Usage Source
2000 2,000,000 206,264,595 1.0 % US$ 570 ITU
2007 20,000,000 224,481,720 8.9 % US$ 1,916 ITU
2008 25,000,000 237,512,355 10.5 % US$ 2,238 APJII
2009 30,000,000 240,271,522 12.5 % US$ 2,329 ITU
2010 30,000,000 242,968,342 12.3 % US$ 2,858 ITU

Note: Per Capita GDP in US dollars, source: United Nations Department of Economic and Social Affairs.

Adapun alasan problematik yang melatarbelakangi pentingnya pemanfaatan TIK dalam membangun karakter bangsa, adalah (1) meningkatkan mutu layanan publik kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa mengenal suku, ras dan agama, untuk mengatasi kesenjangan layanan akibat kondisi geografis yang mana jika diabaikan akan menimbulkan disparitas mutu layanan publik, (2) perubahan sosio-budaya masyarakat yang bergerak dinamis, dan (3) memupuk rasa nasionalisme untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, dan (5) membangun kemandirian dan kreativitas. 

Ada satu perasaan tidak nyaman apabila dalam satu lembaga atau organisasi yang secara kerja dan tanggungjawab bersama-sama dalam memajukan suatu lembaga atau organisasi tapi pendapatan berbeda jauh. Salah satu contoh di sebuah universitas, pendapatan seorang profesor, dosen tersertifikasi, dosen, karyawan dan honorer sangat berbeda dan beragam. Apatah lagi apabila profesor atau dosen yang diberi tambahan tugas memegang jabatan akan menambah lagi kesenjangan tersebut. Bagi sebuah universitas yang kaya dengan berbagai sumber dana mungkin tidak masalah tapi bagi universitas yang pas-pasan menjadi dilema. Adakah solusi lain untuk mengatasi kondisi tersebut? Setidaknya ada tanggung jawab sosial dari pendapatan yang diterima. Anggaplah dari berbagai tunjangan (tunjangan kehormatan, tunjangan sertifikasi, tunjangan jabatan) di potong sebanyak 10% saja untuk berbagi dengan karyawan dan honorer yang tidak mendapatkan apa-apa selain dari gaji dan tunjangan yang umum, maka ketimpangan akan sedikit terkurangi dan dampaknya terhadap kinerja akan lebih terasa senasib sepenanggungan. Inilah yang saya maksud dengan Gaji Sosial.

Dalam dasawarsa terakhir, bidang teknologi informasi mengalami revolusi khususnya untuk perangkat audiovisual, mobile phone dan komputer. Teknologi tersebut telah mengubah cara hidup masyarakat dan berpengaruh terhadap beberapa aspek kehidupan. Materi pelajaran komputer dipersiapkan untuk mengantisipasi dampak perkembangan teknologi khususnya bidang informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran ini perlu dikenalkan, dipraktekkan dan dikuasai sedini mungkin agar memiliki bekal untuk menyesuaikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Komputer sebagai materi pelajaran membawa kosekuensi logis pada keharusan guru menguasainya dan terampil dalam mengajarnya sebelum mengajarkan materi komputer kepada para siswa. Untuk menguasai dan terampil cara mengajarkan komputer kepada siswa, guru perlu mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang cukup memadai melalui cara yang sistematis dan komprehensif.

 Tujuan pendidikan guru komputer adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kompetensi guru komputer sehingga dapat memenuhi kualifikasi  tututan kurikulum.
  2. Menambah wawasan guru bahwa komputer adalah salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap perubahan kehidupan manusia yang sudah memasuki era global.
  3. Meningkatkan kesadaran guru bahwa dengan komputer, siswa dapat berfikir, bekerja, dan berkomunikasi lebih efisien.
  4. Meningkatkan pemahaman guru dalam memberdayakan infrastruktur komputer yang ada secara optimal.
  5. Meningkatkan keterampilan (skill) guru dengan beberapa aplikasi praktis seperti office otomation, internet browser, e-mail, electronic conference, web, dan lain-lain.

Membentuk struktur yang sistematis dalam analisis kebutuhan dan desain kurikulum pendidikan dan pelatihan terkait dengan visi/target yang kemudian dikelompokkan ke dalam beberapa kemampuan yaitu : (i) pengetahuan (knowledge), (ii) keterampilan (skill), (iii) analitis, (iii) inovatif, dan (iv) etika (Etic)

 1. Pengetahuan

Pengertian tentang konsep-konsep dasar yang membangun komputer yang terdiri atas :

  1. Unsur Logika, algoritma,
  2. Unsur Aljabar, boolean,
  3. Unsur  hardware dan software
  4. Unsur sistem informasi
  5. Teknologi Informasi

 2. Keterampilan

Kemampuan tentang prinsip kerja dan pengoperasian perangkat teknologi informasi dan komunikasi yang meliputi :

  1. Unsur hardware :

             1. Instalasi

             2. Menghidupkan

             3. Menjalankan

             4. Memelihara

             5. Instalasi

             6. Mengoperasikan paket aplikasi pengolah (Teks, Audio, Video)

             7. Manajemen informasi

     2.   Unsur Software

     3.   Kolaborasi Hardware dan Software

3. Analitis

Kemampuan untuk melakukan analisis dan menggunakan komputer sebagai alat terhadap bentuk-bentuk transformasi seperti :

       1. Grafik

       2. Tabel

 4. Inovatif

Kemampuan untuk mengembangkan karya inovatif dengan perangkat komputer secara optimal.

 5. Etika

Kemampuan melakukan klasifikasi dan antisipasi dampak penggunaan komputer dalam menyelesaikan masalah dan berkehidupan sosial.

Analisis kebutuhan dan desain kurikulum pendidikan dan pelatihan komputer harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Komputer bukan saja merupakan keterampilan menggunakan sistem komputer yang meliputi perangkat keras dan perangkat lunak tetapi juga lebih memerlukan kemampuan intelektual.
  2. Materi komputer harus berupa tema-tema esensial, aktual serta global yang berkembang dalam kemajuan teknologi pada masa kini, sehingga mata pelajaran komputer merupakan pelajaran yang dapat  mewarnai perkembangan perilaku dalam kehidupan.
  3. Tema-tema esensial dalam komputer merupakan perpaduan dari cabang-cabang Elektro, Matematika, Teknik Elektronika, Telekomunikasi, Sibernetika dan Informatika. Tema-tema esensial tersebut harus berkaitan dengan kebutuhan pokok yang terkait dengan aspek kehidupan sehari-hari.
  4. Materi komputer harus dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner dan multidimensional. Dikatakan interdisipliner karena melibatkan berbagai disiplin ilmu, dan dikatakan multidimensional karena mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.

 Secara umum komposisi kompetensi komputer, meliputi :  

  1. Hardskills, diantaranya :
    1. Pemprograman (PASCAL, BASIC, C, JAVA, dll)
    2. Pemprograman DBMS (Access, delphi, VB, Oracle, dll)
    3. Jaringan (LAN, WAN, MAN, Topologi,  pemrograman jaringan, dll).
    4. Internet (HTML, VRML, XML, JavaScript, dll)
    5. Security Sistem
    6. OS (Windaws, Linux, Unix)
    7. Hardware (input, proses, output)
    8. Multimedia (Audio, grafik,  Video, Animasi, dll)
    9. Sistem aplikasi (SPSS, SAS, Minitab, dll)

      2.   SoftSkills, diantaranya:

                  1.    SDLC (Analisis, design, implementasi dan testing)

                  2.    Kerja Tim

                  3.    Komunikasi

                  4.    Sikap

 

  1. Media kabel tidak terpengaruh oleh gangguan Interferensi Frekuensi jika dibandingkan dengan media nirkabel(Wireless) yang lebih rentan terhadap gangguan Interferensi Frekuensi.
  2. Media kabel tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca seperti hujan lain halnya dengan media nirkabel(wireless) yang rentan terhadap perubahan cuaca.
  3. Mempunyai delay time yang lebih kecil dibanding dengan media nirkabel(Wireless) sehingga cocok digunakan untuk aplikasi real time seperti Video Conference.
  4. Media Kabel(wireline) mempunyai sifat Non Line Of Sight(Non LOS) dimana antara satu titik komunikasi dengan titik komunikasi lainnnya boleh terhalang oleh apapun. Sedangkan media nirkabel(wireless) dibutuhkan Line Of Sight(LOS) dimana antara satu titik komunikasi dengan titik lainnya tidak boleh terhalang oleh sesuatu baik berupa pohon ataupun gedung-gedung.
  5. Keamanan data yang lebih terjamin dikarenakan sulit untuk melakukan penyadapan dibanding dengan dengan media nirkabel(Wireless).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menciptakan tradisi dan budaya baru dalam peradaban umat manusia.  Perubahan yang diakibatkan oleh TIK ini lebih dahsyat dibandingkan dengan perubahan dari era pertanian menjadi era industri yang diawali dengan revolusi Perancis pada 1789. Di antara perubahan itu adalah TIK dapat menjadikan dunia maya menjadi nyata berada di hadapan kita.   Artikel Lengkap.


Tulisan Terbaru

Wed Apr 10th, 2019 by iswara | no comments
@Dr. Prana Dwija Iswara, M.Pd. | Pengabdian PPL 2019
INI DOKUMEN PENGABDIAN PPL 2019 ... »»MORE


Wed Apr 3rd, 2019 by Pidi Mohamad Setiadi | one comment
@Pidi Mohamad Setiadi | Menjaring Angin; Di Sekitar Polemik Pusat-Daerah REMA UPI
SEJAK SISTEM ORMAWA UPI BERUBAH dari Keluarga Mahasiswa menjadi Republik Mahasiswa, tepatnya pada 2007 silam, kini usianya sudah menginjak 12 tahun lamanya. Meskipun terbilang masih muda, sistem ini sudah mulai... »»MORE